07 Februari, 2012

7Aliran Karate

Shotokan

Shoto adalah nama pena Gichin Funakoshi, Kan dapat diartikan sebagai gedung/bangunan - sehingga shotokan dapat diterjemahkan sebagai Perguruan Funakoshi. Gichin Funakoshi merupakan pelopor yang membawa ilmu karate dari Okinawa ke Jepang. Aliran Shotokan merupakan akumulasi dan standardisasi dari berbagai perguruan karate di Okinawa yang pernah dipelajari oleh Funakoshi. Berpegang pada konsep Ichigeki Hissatsu, yaitu satu gerakan dapat membunuh lawan. Shotokan menggunakan kuda-kuda yang rendah serta pukulan dan tangkisan yang keras. Gerakan Shotokan cenderung linear/frontal.



Goju-ryu

Goju memiliki arti keras-lembut. Aliran ini memadukan teknik keras dan teknik lembut, dan merupakan salah satu perguruan karate tradisional di Okinawa yang memiliki sejarah yang panjang. Dengan meningkatnya popularitas Karate di Jepang (setelah masuknya Shotokan ke Jepang), aliran Goju ini dibawa ke Jepang oleh Chojun Miyagi. Miyagi memperbarui banyak teknik-teknik aliran ini menjadi aliran Goju-ryu yang sekarang, sehingga banyak orang yang menganggap Chojun Miyagi sebagai pendiri Goju-ryu. Berpegang pada konsep bahwa "dalam pertarungan yang sesungguhnya, kita harus bisa menerima dan membalas pukulan". Sehinga Goju-ryu menekankan pada latihan atau pernapasan dasar, agar para praktisinya dapat memberikan pukulan yang dahsyat dan menerima pukulan dari lawan tanpa terluka. Goju-ryu menggunakan tangkisan yang bersifat circular, dan menampilkan pertarungan jarak rapat dalam KATAnya.



Shito-ryu

Aliran Shito-ryu terkenal dengan keahlian bermain KATA, terbukti dari banyaknya KATA yang diajarkan di aliran Shito-ryu, yaitu ada 30 sampai 40 KATA, lebih banyak dari aliran lain. Namun yang tercatat di soke/di Jepang ada 111 kata beserta bunkainya. Sebagai perbandingan, Shotokan memiliki 25, Wado memiliki 17, Goju memiliki 12 KATA. 


Wado-ryu

Wado-ryu adalah aliran Karate yang unik karena berakar pada seni beladiri Shindo Yoshin-ryu Jujutsu, sebuah aliran beladiri Jepang yang memiliki teknik kuncian persendian dan lemparan. Sehingga Wado-ryu selain mengajarkan teknik Karate juga mengajarkan teknik kuncian persendian dan lemparan/bantingan Jujutsu. DIdalam pertarungan, ahli Wado-ryu menggunakan prinsip Jujutsu yaitu tidak mau mengadu tenaga secara frontal, lebih banyak menggunakan tangkisan yang bersifat mengalir (bukan tangkisan keras), dan kadang-kadang menggunakan teknik Jujutsu seperti bantingan dan sapuan kaki untuk menjatuhkan lawan. Akan tetapi, dalam pertandingan FORKI dan JKF, para praktisi Wado-ryu juga mampu menyesuaikan diri dengan peraturan yang ada dan bertanding tanpa menggunakan jurus-jurus Jujutsu tersebut.


Kyokushin

Kyokushin tidak termasuk dalam 4 besar Japan Karatedo Federation. Akan tetapi, aliran ini sangat terkenal baik di dalam maupun diluar Jepang, serta turut berjasa memopulerkan Karate di seluruh dunia, terutama pada tahun 1970an. Aliran ini didirikan oleh Sensei Masutatsu Oyama. Nama Kyokushin mempunyai arti kebenaran tertinggi. Aliran ini menganut sistem Budo Karate, dimana praktisi-praktisinya dituntut untuk berani melakukan full-contact kumite, yakni tanpa pelindung, dan menyerang secara frontal, untuk mendalami arti yang sebenarnya dari seni bela diri karate serta melatih jiwa/semangat keprajuritan (budo), aliran ini juga sering dikenal sebagai salah satu aliran karate paling keras. Tidak seperti kebanyakan aliran karate yang sudah berfokus pada olahraga, dimana dalam pertandingannya menerapkan sistem tidak kontak langsung dan hasil yang ditentukan oleh poin, Kyokushin masih berpegang teguh pada sistem tradisional, terlihat dari sistem pertandingan kumite pada kejuaraan Kyokushin yang menerapkan pertarungan full contact dan boleh membuat Knock Out (KO) lawan. Aliran ini menerapkan hyakunin kumite (kumite 100 orang) sebagai ujian tertinggi, dimana karateka diuji melakukan 100 kumite berturut-turut tanpa kalah. Sensei Oyama sendiri telah melakukan kumite 300 orang. Adalah umum bagi praktisi aliran ini untuk melakukan 5-10 kumite berturut-turut.



Shorin-ryu

Aliran ini adalah aliran Karate yang asli berasal dari Okinawa. Didirikan oleh Shoshin Nagamine yang didasarkan pada ajaran Yasutsune Anko Itosu, seorang guru Karate abad ke 19 yang juga adalah guru dari Gichin Funakoshi, pendiri Shotokan Karate. Dapat dimaklumi bahwa gerakan Shorin-ryu banyak persamaannya dengan Shotokan. Perbedaan yang mencolok adalah bahwa Shorin-ryu juga mengajarkan bermacam-macam senjata, seperti Nunchaku, Kama dan Rokushaku Bo.


Uechi-ryu

Aliran ini adalah aliran Karate yang paling banyak menerima pengaruh dari beladiri China, karena pencipta aliran ini, Kanbun Uechi, belajar beladiri langsung di provinsi Fujian di China. Oleh karena itu, gerakan dari aliran Uechi-ryu Karate sangat mirip dengan Kungfu aliran Fujian, terutama aliran Baihequan (Bangau Putih)

wikipedia

Masatoshi Nakayama- 2



Posturnya terlihat tegap dan kuat. Sorot matanya tajam, kadangkala terkesan dingin bagi beberapa orang. Sebagian mengaguminya sebagai figur yang berwibawa dengan keahlian karate yang tidak diragukan lagi. Sebagian membencinya karena tindakannya yang dianggap melanggar larangan sang guru. Kontroversial, adalah kata yang sering melekat padanya. Namun tidak diragukan lagi, dia juga salah satu loyalis dari Bapak Karate Moderen. Jika Funakoshi menyebarkan karate di Jepang, maka dirinya telah menyebarkan karate ke penjuru dunia.

Masatoshi Nakayama adalah salah satu tokoh awal karate Shotokan. Namanya terkenal karena merubah fungsi karate sebagai kompetisi olah raga, sebuah cita-cita yang tidak pernah diinginkan oleh Funakoshi yang menggunakan karate sebagai “do”. Dilahirkan di Prefektur Yamaguchi tanggal 13 April 1913, Nakayama masih mempunyai hubungan dengan klan Sanada yang legendaris. Keluarga Nakayama secara turun-temurun menguasai bela diri tradisional Jepang. Naotoshi (ayahnya) belajar judo sedangkan Naomichi (kakeknya) terkenal sebagai instruktur kendo ternama. Antusias pada bela diri agaknya mengalir dalam darah Nakayama yang juga berlatih kendo dan judo sejak anak-anak.

Saat usianya beranjak remaja, Nakayama pindah ke Taiwan untuk meneruskan sekolahnya. Sebagai anak muda yang bersemangat, Nakayama terlibat dalam banyak kegiatan klub seperti atletik, renang, tennis dan ski. Meski sangat sibuk Nakayama tidak melupakan latihan kendonya. Sang kakek sangat gembira melihat cucunya menggeluti bela diri yang sama dengannya. Dirinya berharap agar kelak Nakayama akan mengikuti jejaknya sebagai instruktur kendo. Namun ternyata hal lain justru ada dalam benak Nakayama. Belajar di Taiwan agaknya menimbulkan rasa penasaran sekaligus keinginan untuk pergi Cina. Namun saat itu tidak mudah mencapainya karena dibutuhkan biaya yang tinggi. Nakayama kemudian memilih Universitas Takushoku untuk mewujudkan impiannya. Saat itu lulusan Takushoku memang banyak dikirim ke negara Asia untuk bekerja atau sebagai wakil Jepang.

Tahun 1932 diam-diam Nakayama mengikui tes masuk di Universitas Takushoku dan berhasil lulus. Nakayama sangat beruntung karena Takushoku terkenal sebagai universitas dengan koleksi bela diri tradisional Jepang yang lengkap. Dengan demikian dirinya tidak perlu susah-susah melanjutkan latihan kendonya. Saat jadwal latihan untuk seluruh kegiatan klub akhirnya diterbitkan, Nakayama ternyata keliru membaca jadwal latihan kendo yang terbalik dengan karate. Begitu datang ke dojo, Nakayama baru menyadari bahwa dirinya hadir di hari yang salah. Meski kecewa, Nakayama tidak langsung pulang, melainkan ingin melihat latihan karate dari dekat.

“…Di surat kabar aku telah membaca tentang karate, namun aku tidak begitu banyak mengetahuinya, karena itu kuputuskan untuk duduk dan melihatnya sebentar. Tidak lama, seorang laki-laki tua datang ke dojo dan mulai memberi aba-aba pada para murid. Dia benar-benar sangat ramah dan tersenyum pada siapapun, tapi tidak diragukan lagi bahwa dia adalah instruktur kepala. Hari itu, aku melihat Master Funakoshi dan karate untuk pertama kalinya. Aku menyukainya dan karena itu aku ingin mencoba karate pada latihan berikutnya, karena dengan pengalamanku di kendo seharusnya karate akan lebih mudah. Pada latihan berikutnya, dua hal yang terjadi telah mengubah hidupku; Pertama, aku benar-benar telah lupa dengan kendo, dan kedua, aku menemukan bahwa seluruh teknik karate ternyata tidak mudah dikerjakan. Sejak hari itu hingga sekarang, aku tidak pernah kehilangan semangat untuk berusaha menguasai teknik karate-do.”

Begitulah, Nakayama kemudian mulai menjalani latihan karate di Takushoku yang terkenal paling berat dan melelahkan. Saat itu hanya ada dua macam latihan karate, yaitu memukul makiwara sekitar 1000 kali dan mengerjakan satu macam kata 50-60 kali. Latihan yang membosankan namun menuntut fisik dan semangat yang prima itu berlangsung selama 5 jam. Akibatnya tidak banyak murid yang mampu bertahan, hingga dalam waktu 6 bulan hanya tersisa sedikit saja. Nakayama terus bertahan dan mengerjakan seluruhnya tanpa mengeluh.

Setahun setelah Nakayama bergabung dengan klub karate, latihan kumite mulai diperkenalkan. Tahun 1933 berturut-turut gohon kumite (5 teknik), sanbon kumite (3 teknik) dan ippon kumite (1 teknik) mulai diajarkan. Nakayama yang sebelumnya telah belajar kendo tidak begitu kesulitan dengan latihan model baru ini. Tahun 1934 kumite setengah bebas (jiyu ippon kumite) diajarkan dan ternyata mendapat respon yang positif dari kalangan mahasiswa. Model kumite ini adalah inovasi dari Yoshitaka Funakoshi yang terinspirasi dari latihan kendo. Sayangnya Nakayama saat itu telah pergi ke Cina hingga tidak begitu lama merasakan jiyu ippon kumite. Saat itu latihan kumite dianggap sebagai pengusir kebosanan dengan latihan Funakoshi yang hanya fokus pada kihon dan kata saja.

Tahun 1937 menjadi tahun yang melelahkan namun menggembirakan bagi Nakayama. Saat itu Nakayama berhasil lulus dari Takushoku namun harus pergi ke Cina sebagai wakil pertukaran pelajar dengan Universitas Peking. Nakayama dipilih karena termasuk pemuda yang pandai, apalagi sebelumnya telah belajar bahasa Cina di sela kesibukan karatenya. Saat akan kembali ke Jepang, Nakayama ternyata harus menundanya karena bekerja untuk pemerintah Cina selama beberapa waktu. Tahun 1946 Nakayama baru kembali ke Jepang, setahun setelah negara itu mendapat mimpi buruk akibat kalah perang. Saat itulah Nakayama mendapati kenyataan pahit dengan banyak rekannya di dojo telah tewas. Meski sulit, Nakayama berusaha mengumpulkan mereka yang pernah aktif berlatih karate dan mencoba mengorganisir latihan seperti sebelum perang. Tahun 1947 Nakayama menjadi instruktur kepala di Takushoku menggantikan Funakoshi. Upaya Nakayama berhasil mengembalikan reputasi Takushoku sebagai yang paling aktif dalam karate sesama dojo universitas.

Angin perubahan dunia karate Jepang terjadi tahun 1949 saat dibentuk Japan Karate Association (JKA). Organisasi ini muncul setelah beberapa murid senior Funakoshi menginginkan satu wadah yang resmi karate. Lebih jauh untuk menyatukan seluruh praktisi karate Jepang yang tercerai berai pasca perang. Meskipun dalam JKA Funakoshi bertindak sebagai guru besar kehormatan, namun usia yang telah lebih dari 80 tahun membuatnya tidak mungkin bertindak sebagai instruktur. Karena itulah Nakayama dipilih sebagai instruktur kepala mewakili Funakoshi. Tidak lama sesudahnya, tahun 1952 bagian pendidikan jasmani di Takushoku meminta bantuannya sebagai staf pengajar. Posisi itu adalah awal karirnya, karena di masa mendatang Nakayama menjadi kepala di divisi tersebut.

Setelah Funakoshi meninggal dunia, Nakayama berperan besar dalam proses awal JKA hingga menjadi besar seperti sekarang. Selain sebagai instruktur kepala, Nakayama melakukan banyak riset dalam karate. Agaknya posisi yang dekat dengan dunia akademis membuat Nakayama tidak kesulitan dengan hal itu. Hasilnya adalah apa yang terlihat dalam JKA moderen saat ini tampil sebagai organisasi karate yang terbesar di dunia. Ada tiga hal utama yang dianggap sebagai inovasi terbaik dari Nakayama, yaitu: menyebarkan karate ke penjuru dunia, program pelatihan calon instruktur JKA dan kompetisi karate. Meski banyak mendapat repon positif, seluruhnya program itu masih menyisakan pro dan kontra bahkan hingga kini.

Untuk mendukung promosi Shotokan JKA, Nakayama menerbitkan banyak buku karate. Diantaranya adalah “Dynamic Karate” (1965, 2 volume), Best Karate (1977, 11 volume), “Katas of Karate” (5 volume) dan “Superior Karate” (11 volume).(Fokushotokan.com)

Masatoshi Nakayama



Bicara tentang pandangannya tentang karate, Nakayama mempunyai konsep yang lebih luas. Jika sebagian orang menyatakan manfaat karate adalah untuk meningkatkan kondisi fisik, maka Nakayama menjabarkannya dengan lebih luas. Menurut Nakayama karate adalah sebuah latihan fisik yang menggerakkan seluruh anggota tubuh ke segala arah baik berurutan dan bersamaan.

Dengan didukung tekad yang kuat, hanya berbekal tangan kosong saja seseorang mampu melancarkan teknik yang terkontrol baik ke sasaran. Dengan demikian teknik karate yang dilakukan dengan benar seharusnya efektif meski menghadapi lawan seperti apapun. Meski Nakayama membenarkan fungsi karate sebagai bela diri, ditegaskan olehnya bahwa tujuan karate sejak dulu hingga kini masih sama. Hal itu adalah sebagai dasar yang kuat untuk mengembangkan setiap individu baik secara emosi, fisik dan spiritual.

Dalam beberapa tulisan dan wawancara dengannya, Nakayama menegaskan bahwa karate lebih dari sekedar menang atau kalah. Karate adalah “alat” untuk mengatasi tantangan tidak hanya dalam berlatih, namun juga dalam hidup ini. Keyakinan ini masih berhubungan dengan konsep “do” (jalan, arah) yang pernah diutarakan Funakoshi. Bagi Nakayama konsep “do” menjadikan seni karate digunakan sebagai cara untuk mencapai kebajikan dan kesempurnaan karakter. Dimana untuk mencapainya butuh proses sepanjang hidup karena di dunia ini tiada seorangpun yang sempurna. Diutarakan olehnya:

”Kemajuan seseorang dalam seni karate-do mirip dengan menaiki sebuah tangga atau melangkah di jalan yang curam. Seiring tubuh dan pikiran yang tumbuh bersamaan, seseorang akan terus melangkah ke depan dan naik, satu langkah dalam satu waktu.”

Barangkali sudah bukan rahasia lagi jika Nakayama dituding sebagai tokoh yang bertanggung jawab atas munculnya kompetisi karate (sport karate). Akibat tindakan itu banyak orang memujinya meski tidak sedikit pula yang mencelanya. Mereka yang memuji umumnya berasal dari generasi baru karate Jepang yaitu pasca Perang Dunia II. Saat itu banyak anak muda Jepang yang ingin melihat karate dapat dipertandingkan seperti baseball atau basket. Mereka berharap kompetisi karate dapat menjadi semacam obat bagi Jepang yang telah kalah perang. Selain itu anak muda Jepang juga ingin melanjutkan kumite yang sempat diperkenalkan sebelumnya.

Nakayama melihat hal itu sebagai kesempatan untuk mempopulerkan karate yang sempat terhenti akibat krisis perang. Dengan melakukan berbagai riset, Nakayama mulai membandingkan karate dengan peraturan cabang olah raga lain. Dengan latar belakangnya sebagai profesor bidang olah raga, Nakayama tidak menemui kesulitan yang berarti. Hasilnya adalah turnamen karate JKA pertama yang digelar tahun 1957 di Tokyo. Acara itu sukses besar hingga publik Jepang rela berdesakan di dalam gedung menyaksikan momen yang diakui bersejarah sekaligus revolusioner. Begitu hebohnya hingga negara barat juga kagum dengan keberhasilan Jepang menggelar acara semegah itu. Peristiwa itu seakan menghapus memori buruk akibat serangan bom atom yang masih menyisakan trauma hingga kini.

Namun ternyata tidak semua pihak turut gembira dengan kesuksesan Nakayama dan JKA. Dibelakang gemerlap kompetisi karate yang pertama itu terbersit penyesalan dan kekecewaan dari murid-murid senior Funakoshi. Mereka seakan tidak percaya JKA berani melanggar larangan Funakoshi dengan terang-terangan. Bahkan tidak sedikit yang kemudian menganggap Nakayama dan JKA telah mengkhianati cita-cita Funakoshi. Namun mereka yang kecewa dengan hal itu memilih untuk tidak mengumbar konfrontasi terbuka. Mereka lebih memilih menyatukan mengumpulkan rekan-rekannya yang masih mempunyai tujuan sejalan dengan prinsip Funakoshi. Dengan tegas mereka menyatakan menarik diri dari segala turnamen, komersialisasi karate dan berharap para antusias karate di dunia akan mengetahui perbedaan antar dua kelompok itu.


Gichin Funakoshi & Masatoshi Nakayama

Meskipun banyak yang menuduhnya sebagai otak dibalik munculnya kompetisi karate, Nakayama tampaknya sangat berhati-hati menanggapi masalah ini. Nakayama sadar bahwa esensi karate yang berubah akibat kompetisi adalah pertanyaan yang sangat sensitif dan sulit dijawab. Sehingga hingga kini memang sulit dibuktikan apa tujuan sebenarnya Nakayama menggelar acara itu. Murid-murid Nakayama yang paling awal seperti Hirokazu Kanazawa (SKIF), Keigo Abe (JSKA) dan Tetsuhiko Asai (JKS) bahkan tidak mengetahui motif Nakayama. Orang terdekat Nakayama yaitu Teruyuki Okazaki (ISKF) yang membantunya meriset peraturan kompetisi juga tidak mampu berkomentar banyak. Satu-satunya argumentasi Nakayama berkaitan dengan hal ini adalah, dirinya menambahkan peraturan olah raga dalam karate untuk menghindari resiko cedera akibat teknik yang tidak terkontrol. Hal itu dilakukan setelah Nakayama mengamati kumite yang terjadi tahun 1930-an.

Harus diakui pernyataan itu tidaklah cukup menjawab alasan sebenarnya Nakayama berani menggelar kompetisi karate. Akibatnya munculah pernyataan yang serba spekulatif dari publik karate dunia. Misalnya kompetisi sebenarnya tidak lebih dari upaya Nakayama untuk mempopulerkan karate JKA keluar negeri. Seperti telah diketahui bahwa orang barat sulit menerima karate karena filosofinya yang rumit dan dinilai tidak masuk akal. Gegap gempita kompetisi karate seakan telah melupakan pandangan orang barat tentang filosofi karate. Bagi mereka karate mirip dengan olah raga seperti basket yang berusaha mencuri poin sebanyak mungkin. Sehingga jika melihat cabang JKA yang kini tersebar di luar negeri, tidak heran banyak yang mengidolakan sosok Nakayama.

Nakayama percaya bahwa dirinya tidak pernah ingin atau telah melanggar prinsip Funakoshi meski menyebarkan semangat karate dengan jalan yang berbeda. Keyakinannya senada dengan yang pernah diungkapkan Funakoshi bahwa karate sebenarnya seni bela diri yang tidak pernah selesai. Artinya, di masa depan karate akan terus berkembang dan berubah karena dipengaruhi oleh banyak orang dan banyak hal.

"Saat aku mati kelak, aku berharap master Funakoshi tidak akan memarahiku karena memperkenalkan karate sebagai kompetisi olah raga (sport karate). Namun kukira dia tidak akan terlalu kecewa. Dia ingin aku menyebarkan karate-do ke penjuru dunia, dan kompetisi karate telah berhasil mewujudkannya." - Masatoshi Nakayama -. (Fokushotokan.com)

05 Februari, 2012

Hirokazu Kanazawa di Amerika dan Eropa

Tahun 1960 Kanazawa mulai mengembangkan karirnya di luar negeri. Tempat pertama yang ditujunya adalah Hawaii. Kanazawa menganggap negara di luar Jepang memang butuh lebih banyak instruktur karate. Hal itu karena kebanyakan instruktur karate adalah eks prajurit yang pernah belajar karate. Namun karena terlalu singkat, mereka belum mencapai sabuk hitam. Akibatnya standar mereka juga tidak begitu tinggi.

“Kebanyakan mereka adalah prajurit dan pernah berlatih di dojo Okinawa maupun Jepang. Karena berlatih dalam waktu yang singkat, kebanyakan mereka hanya memegang sabuk coklat. Mereka harus kembali ke Amerika sebelum mendapat sabuk hitam. Lalu mereka mulai mengajar karate.”
 

Umumnya seorang instruktur karate saat berpromosi akan mendemonstrasikan kata atau tameshiwari (pemecahan benda keras). Namun lain halnya dengan Kanazawa. Saat di Hawaii dirinya mesti bekerja keras dengan melawan petarung dari beragam disiplin bela diri. Mulai dari kajukenbo, petinju hingga pegulat pernah dihadapinya. Sebagian dari lawannya bahkan memegang peringkat yang tinggi di organisasinya.

“Petinju dan pegulat adalah orang yang kuat. Pukulan mungkin bisa saja mereka tahan, tapi tidak dengan tendangan. Karena itu kugunakan teknik jodan mawashi geri (tendangan ke arah pelipis) untuk pegulat dan ashi barai (sapuan kaki) untuk petinju.”Bang!!! begitu terkena mereka langsung tidak sadar.”

Meskipun banyak melawan petarung dengan bela diri bergaya barat, di Hawaii Kanazawa juga sempat melawan beberapa karateka. Ada kisah unik dimana setelah Kanazawa mengalahkan seorang karateka dari aliran Kushinkai, orang itu lalu pindah pada Shotokan.

Usaha Kanazawa mempromosikan Shotokan di benua Amerika berhasil dengan dibukanya cabang perwakilan JKA di Hawaii. Dua tahun kemudian Kanazawa kembali ke Jepang.

Namun agaknya Kanazawa tidak dapat berlama-lama di Jepang. Tahun 1965 JKA menugaskannya untuk serangkaian promosi di benua Eropa. Kanazawa yang menyukai karate agaknya tidak keberatan menerima tugas berat itu.

“Aku sangat menyukai karate dan kupikir karate bermanfaat dalam segala hal baik karakter, tubuh dan jiwa. Itulah sebabnya aku ingin membaginya dengan orang lain. Tentu saja kuharap akan ada persahabatan antara Jepang dengan negara lain. Saat JKA berkata, “kau harus pergi” aku tidak keberatan, karena aku menikmati berkeliling dunia untuk mengajar karate.”

Tahun 1965 Inggris menjadi ekspansi Kanazawa berikutnya. Sebuah tantangan baru kembali dihadapi Kanazawa. Namun kali ini bukan berasal dari petarung lain, melainkan dari orang awam yang ingin belajar gaya Shotokan JKA.

Orang barat ternyata mempunyai perbedaan fisik dengan orang Jepang. Meskipun berpostur lebih tinggi, orang barat ternyata mempunyai masalah dengan gerakan tertentu. Hal ini juga dialami Teruyuki Okazaki (pendiri ISKF) yang mengajar di Amerika. Menurut Okazaki jika orang Jepang mampu melakukan lompat kelinci, maka sebaliknya dengan orang barat.

Melihat kelemahan itu, Kanazawa mencoba memikirkan cara lain. Dirinya mulai mengubah sedikit gerakan kata agar sesuai dengan fisik orang barat. Akibat tindakannya itu Kanazawa sempat dituduh telah mengubah esensi kata Shotokan. Meski sempat kontroversial, Kanazawa menegaskan bahwa dirinya tidak pernah mengubah inti dari kata Shotokan. Dirinya beralasan apa yang dilakukannya hanya untuk mempermudah metode mengajarnya.

Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, Kanazawa mempunyai kelebihan dalam teknik tendangan. Saat mengajar di Inggris dan negara Eropa berikutnya, Kanazawa mengurangi porsi latihan pukulan. Dia melihat kelebihan orang barat dalam hal kekuatan kaki. Potensi ini ditanggapi Kanazawa dengan mengajarkan lebih banyak tendangan. Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa hari ini karateka barat terlihat lebih unggul dalam hal tendangan.

Tahun 1968 Kanazawa melanjutkan perjalanannya menuju ke beberapa negara Eropa. Masih di tahun yang sama, Kanazawa ditunjuk sebagai manajer utama tim karate Eropa yang akan berlaga di turnamen WUKO di Meksiko. Penunjukkan ini membuktikan figur Kanazawa telah populer di kalangan orang barat. (Indoshotokan.blogspot.com)


Unsu - Tangan yang Menyibak Awan


Kedua tangan bergerak merapat dan perlahan mendekati wajahnya. Seolah membuka tirai, kedua tangan itu lalu bergerak melebar kesamping. Tiba-tiba gerakan tangan yang cepat menghentak bersamaan dengan nekoashi dachi (kuda-kuda kaki kucing) mengejutkan penonton. Ah…rupanya dia sedang menampilkan kata Unsu.

Nama Unsu berasal dari dua huruf kanji yaitu “un” berarti awan, dan “shu” yang berarti tangan. Unsu dapat diartikan sebagai “bagaikan tangan yang menyibak awan.” Ada juga yang mengartikan “tangan bergerak mirip awan yang berarak di angkasa.” Nama ini juga sangat tampak pada gerakan pembuka kata ini. Konon di masa lalu ada yang menyebut Unsu dengan Hakko.

Menurut legenda, Unsu diperkenalkan pertama kali oleh Arakaki Seisho sekitar tahun 1890. Sejak banyaknya modifikasi kata saat ini, bentuk asli dari kata Unsu sulit dipastikan. Versi Shotokan mengadopsi dari Shito-ryu (disebut Unshu) yang jumlah gerakannya lebih banyak. Sekitar tahun 1960-an Shotokan baru resmi memasukkan kata Unsu dalam silabus mereka.

Menurut sejarahnya, Shotokan mendapatkan kata Unsu setelah Gichin Funakoshi meminta beberapa muridnya untuk belajar pada Kenwa Mabuni. Selain Unsu, ada juga beberapa kata lain yang dipelajari misalnya Nijushiho dan Gojushiho. Namun belajar banyak kata dalam waktu singkat jelas hal yang mustahil. Itulah sebabnya kata Shotokan yang diadopsi dari Shito-ryu mengalami pemangkasan gerakan disana-sini.

Sebagaimana ditulis Funakoshi dalam bukunya, Okinawa adalah pulaunya angin topan. Masyarakat setempat kemudian membuat semacam tarian tradisional yang menggambarkan keadaan di saat badai. Entah legenda itu benar atau tidak, konon Arakaki menciptakan kata Unsu setelah terinspirasi tarian tersebut.

Meskipun jauh lebih pendek dari versi aslinya, Unsu dari Shotokan terkenal sebagai kata yang indah dan sangat sulit. Selain lompatan tinggi selebar 540 derajat, teknik dua jatuhan dan pukulan cepat empat penjuru menjadi alasannya. Masatoshi Nakayama mengatakan untuk menguasai Unsu, maka sebelumnya paling tidak telah menguasai seluruh kata Heian, Kanku dan Jion. Tanpa ketiganya sama saja seperti boneka orang-orangan sawah yang menari.

Bicara masalah lompatan, pada mulanya sangat sedikit orang-orang di JKA yang mampu melakukannya. Bahkan Nakayama dan sang maestro Hirokazu Kanazawapun tidak sanggup. Adalah Mikio Yahara yang berhasil melakukan lompatan Unsu seperti yang dicontoh banyak orang saat ini.

Siapa sebenarnya Yahara? Pemuda yang awalnya gemar berkelahi ini termasuk murid terbaik di JKA. Bahkan karena kemampuannya itu, Nakayama memintanya menjadi model peraga kata Unsu di beberapa video komersil produksi JKA. Yahara juga mendominasi turnamen di era tahun 1980-an. Kata Unsunya terkenal cepat, indah dan bertenaga. Sekalipun sekarang irama menjadi poin penting dalam pertandingan kata, gerakan Yahara yang terkesan tradisional saat itu tetap dikagumi hingga kini.

Jika Anda amati, tren melompat ini rupanya juga “mewabah” ke dalam gaya kata Shito-ryu. Beberapa tahun terakhir ini banyak peserta kata dari Shito-ryu yang memasukkan gaya melompat dalam kata mereka. Cobalah amati kata seperti Koshokun Dai, Koshokun Sho dan Chatanyara Kushanku. Bahkan ada juga yang mengadopsi lompatan Unsu Shotokan dalam Unshu versi Shito-ryu.

Bagi peserta kata dari Shotokan, hal ini jelas harus dipikirkan. Ini karena Shito-ryu mempunyai jumlah kata yang sangat banyak dan panjang. Bandingkan dengan kata Shotokan yang lebih sedikit dan mayoritas lebih pendek. Jika Anda praktisi Shotokan spesialis nomor kata, maka menguasai Unsu adalah sebuah keharusan. (Indoshotokan.blogspot.com)

04 Februari, 2012

Luca Valdesi

Sebuah tendangan meluncur deras dari kakinya menuju sasaran kepala yang segera disusul sebuah pukulan lurus dengan sebuah teriakan keras. Penonton yang sebelumnya terdiam karena menyaksikan penampilannya segera riuh bertepuk tangan. Tidak lama kemudian laki-laki ini segera menutup gerakannya dan memberikan hormat. Bendera dari wasit dan juri diangkat sebagai tanda kemenangan berpihak padanya. Luca Valdesi dari Italia yang baru saja menampilkan kata Gankaku ternyata kembali meraih gelar juara dunianya.

Bagi mereka yang berlaga di nomor kata sudah tidak asing lagi dengan nama Luca Valdesi. Dirinya diakui sebagai salah satu figur yang mampu menunjukkan karakter kata Shotokan dengan maksimal. Peringkat 1 dunia ternyata sudah berhasil diraihnya pertama kali pada tahun 2000. Namun setelah itu peringkatnya sempat melorot ke posisi 2 dan 3 dunia meski akhirnya kembali ke posisi teratas. Walaupun sempat naik turun, Valdesi berhasil memantapkan posisinya di peringkat 1 dunia sejak tahun 2006 hingga sekarang. Tidak heran jika banyak lawannya dari negara lain menganggap Valdesi sebagai kompetitor terberat baik pada nomor perorangan maupun beregu.

Luca Valdesi lahir tanggal 18 Juni 1976 di Palermo, Sicilia. Awal keterlibatannya dalam karate dimulai saat usianya baru 6 tahun. Ayah dan pamannya ternyata juga memegang sabuk hitam karate, sehingga bagi Valdesi bergabung dengan tim karate tak ubahnya semacam tradisi keluarga. Di awal perkenalannya dengan karate, Andrea (ayah Valdesi) selalu membawanya di beberapa klub lokal di kota itu.

Tahun 1995 Valdesi bergabung dengan Fiamme Gialle, sebuah tim karate bergengsi yang bernaung dibawah otoritas Kepolisian Italia. Disini Valdesi dibimbing oleh Claudio Culasso yang menjabat sebagai kepala instruktur. Tidak lama kemudian sebuah turnamen lokal berskala nasional digelar di Italia. Di turnamen itu Valdesi berhasil meraih gelar pertamanya di usianya yang masih 18 tahun. Sejak itu dirinya terus mengasah kemampuannya hingga turnamen internasional tiba. Meski awalnya tidak cukup yakin mampu berlaga di nomor bergengsi kata perorangan, Valdesi ternyata berhasil menempati posisi puncak dalam European Championships yang digelar tahun 2000 itu. Dan sejak itu gelar juara dari berbagai turnamen selalu berhasil diraihnya.

Disela kesibukannya dalam karate, Valdesi tetap tidak melupakan kehidupan pribadinya. Tahun 2001 dirinya menikahi Ada Spinella, seorang penari sekaligus selebriti ternama. 3 tahun kemudian anak pertamanya, Andrea, lahir. Beberapa bulan kemudian dirinya lulus dari Universitas dengan meraih gelar sarjana dari jurusan ekonomi bisnis.

Saat ini banyak organisasi karate yang sengaja mengubah kata baik pada gerakan maupun iramanya agar terlihat lebih indah dan cepat. Valdesi menyatakan akan tetap berusaha mempertahankan prinsip dasar gerakan setiap kata. Namun demikian dirinya tidak menampik dengan kenyataan bahwa seiring berjalannya waktu, karate saat ini telah banyak berubah.

“Di semua cabang olah raga baik metode dan penampilan telah berubah. 20 tahun lalu, rekor lari berbeda, hal itu sama dengan karate. Waktu telah merubahnya.”


Antonio Diaz (kiri) dengan Chatanyara Kushanku di final turnamen WKF 2008 di Tokyo melawan Luca Valdesi dengan Gankaku. Pertandingan itu dimenangkan Valdesi.

Meskipun banyak orang yang memuji kecepatan tangan dan kaki Valdesi, namun tidak sedikit pula yang mengkritiknya. Bahkan di salah satu situs video sharing ada juga yang menyebut Valdesi sebagai si “tupai” karena saking cepatnya. Sebuah komentar negatif namun cukup menggelikan memang. Ada juga komentar miring lainnya yang menilai gaya Valdesi dianggap terlalu menonjolkan sisi sport karate daripada esensi teknik. Dengan kata lain, Valdesi hanya dianggap terlalu mementingkan keindahan gerak tak ubahnya penari dibanding menunjukkan makna bela diri. Namun karena itulah yang dituntut dari sport karate, gaya Valdesi agaknya tidak perlu diperdebatkan.

Jika setiap orang yang berlatih karate mempunyai kata favorit, maka demikian pula halnya dengan Valdesi.

“Kata favoritku adalah Unsu dan Gankaku. Yang pertama adalah sebuah kata yang sangat cepat dan spektakuler. Aku dapat menunjukkan karakterku didalamnya; yang kedua merupakan kata paling sulit di Shotokan karena membutuhkan keseimbangan dan konsentrasi yang besar….tubuh dan pikiran..”

Barangkali dari sebagian banyak rival Valdesi hanya Antonio Diaz yang terbilang cukup tangguh untuk berlaga dengannya. Antonio Jose Diaz Fernandez adalah karateka Venezuela terbaik yang meraih medali perunggu dalam turnamen di tahun 2002, 2004 dan 2006 di nomor kata perorangan. Diaz yang terkenal dengan kata Chatanyara Kushanku sebagai andalannya ini juga menjadi juara pertama di turnamen Pan America di tahun 2005, 2006 dan 2007. Terakhir Diaz berhasil meraih medali emasnya di Curacao (2009). Meski pertemuan Valdesi dan Diaz cukup sering (11 kali total), penampilan mereka tidak pernah membosankan. Penonton agaknya selalu penasaran siapa pemenang antara Valdesi (Unsu – Gankaku) dengan Diaz (Superimpai – Chatanyara Kushanku)

Di usianya sekarang (2012) yang sudah terbilang tua sebagai atlit, Valdesi masih saja aktif berlaga di nomor spesialisasinya yaitu kata perorangan. Di tengah persaingan yang semakin ketat dengan munculnya atlit baru yang lebih muda dan enerjik, nama Valdesi ternyata masih sulit digeser dari peringkat 1 dunia saat ini. Bicara masalah keinginannya selepas pensiun dari kompetisi karate, Valdesi begitu antusias ingin keliling dunia sambil memberikan berbagai seminar dan pelatihan.

“Aku ingin berkeliling dunia memberikan pelajaran dan seminar dan aku menyukainya. Aku juga ingin berbagi apa yang telah kupelajari untuk membantu membimbing calon kompetitor baru dalam turnamen.” ungkapnya. (Fokushotokan.com)

Bassai sho